Informasi

George Saa: Masalah Hukum yang Dihadapi Papua

BEM UNS Minggu, 28 Juni 2020

Apa saja sih masalah hukum yang dihadapi Papua?
Sudut Pandang Hukum dan Implementasi Penanganan Masalah di Papua

Diskriminasi terhadap unsur-unsur kemanusiaan bagi warga Papua yang membuat orang Papua menjauhkan diri kepada lembaga pemerintahan dan perpanjangan tangannya di Indonesia. Khususnya penerapan pasal makar yang merupakan pasal karet yang dapat mengenai aspek kehidupan manusia baik yang menyinggung, maupun tidak menyinggung pemerintahan yang sah. Dengan adanya pasal ini maka akan menyebabkan hukum semakin tebang pilih tergantung siapa yang melakukan perbuatan yang dinilai dapat dijerat pasal makar. Adapun rasisme dalam yang dialami masyarakat Papua tersebut antara lain:

Mereka (para aktivis dari BEM dan sebagainya) merupakan sosok orang yang kritis dengan keadaan di Papua sehingga tidak layak bagi mereka semua untuk dikriminalisasi atau dipenjarakan atas aksinya tersebut.

Kita harus mengingat bahwasanya setiap orang hidup memiliki hak asasi yang dijamin oleh hukum dan negara yaitu untuk hidup, berbicara, dan sebagainya. Ketika hak untuk berbicara saja dibatasi, maka akan mencederai hak–hak dari manusia itu sendiri, sehingga menuntut untuk dibebaskannya 7 Tapol dan rakyat Papua yang menyuarakan haknya. Dengan adanya kriminalisasi ini akan mengakibatkan semakin tidak percayanya kita akan sistem yang berlaku sehingga mencederai hak asasi manusia itu sendiri.

Usul yang pertama adalah “Selesaikan permasalahan yang lama sebelum menambah persoalan yang baru”. Kedua, perilaku rasisme harus diperhatikan untuk dapat dihindari. Kita harus dapat membangun sikap kritis terhadap lingkungan sekitar.

Rasisme secara sederhana dibagi menjadi dua hal yakni individu dengan individu, serta ada rasisme secara struktural. Rasisme secara struktural adalah pembenturan suatu lembaga kepada masyarakat untuk sebuah kepentingan. Tindakan rasisme banyak yang terjadi secara tidak sadar. Kita sebagai generasi muda harus mengubah pola pikir kita agar menghindari hal–hal seperti itu.

Kejadian yang nyata adalah pembangunan yang terjadi di Papua belum terlaksana secara maksimal. Pemerintah seolah–olah membenturkan masyarakat Papua dengan masyarakat lainnya. Sehingga muncul stigma Papua sudah maju, masyarakat Papua tidak bersyukur, dan sebagainya. Padahal kenyataannya banyak sekali masyarakat Papua yang belum sejahtera.

Bagaimana kondisi pendidikan di Papua saat ini?

Jika dikaitkan dengan persoalan rasisme yang sedang terjadi saat ini, maka jangan sampai menimbulkan perbincangan antara anak-anak dengan orang tua mereka atau teman sebaya mereka. Cukup jangan sampai anak-anak bertanya-tanya.

Pendidikan di Papua sudah lebih baik, pemerintah memiliki spending yang luar biasa dan anak-anak diberi kesempatan yang luar biasa pula. Namun, masih banyak kekurangannya terutama yang ada di pelosok. Dan hal tersebut menjadi tantangan tersendiri. Dengan perkembangan teknologi diharapkan pendidikan di Papua akan semakin lebih baik lagi.