Logo BEM UNS 2020
Kajian Akademik

Resesi Ekonomi, Indonesia Harus Gimana?

BEM UNS Senin, 7 September 2020

Resesi Ekonomi, Indonesia Harus Gimana?

Kondisi pandemi COVID-19 yang tidak berhenti menjadikan penderitaan pada sektor ekonomi semakin panjang. Variabel-variabel pertumbuhan ekonomi menjadi semakin terkontraksi dan menimbulkan defisit. Kondisi ini menyembabkan banyak kekhawatiran dari masyarakat mengenai perekonomian Indonesia, khususnya pada sektor UMKM yang menjadi penopang pendapatan kelompok masyarakat menengah ke bawah.

Tingkat pertumbuhan ekonomi yang mengalami defisit hingga kuartal II (Q2) tahun 2020 mengindikasikan terjadinya resesi nasional. Resesi merupakan suatu kondisi di mana pertumbuhan ekonomi sebuah negara mengalami kelesuan secara signifikan dan setidaknya terjadi selama 2 kurtal beruntun. Suatu negara dapat dikatakan mengalami resesi ketika Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami kontraksi atau minus yang akhirnya mengalami kelesuan ekonomi.

Kondisi resesi terjadi secara global di berbagai negara, bukan hanya negara berkembang saja, akan tetapi negara maju juga masuk ke dalam jurang resesi. Amerika Serikat mengalami resesi setelah perekonomian di kuartal II tahun 2020 mengalami minus 32,5%, sebelumnya pada kuartal I minus 5%. Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menjelaskan imbas resesi ekonomi AS akan cukup terasa bagi ekonomi nasional. Menurut perhitungannya setiap 1% pertumbuhan ekonomi AS terkoreksi akan berpengaruh terhadap 0,02% – 0,05% pertumbuhan ekonomi Indonesia.


Unduh lampiran dokumen tersebut di sini: Unduh Kajian Anstrat Commentarios