Kenali Risiko Kesehatan Mental dan Apa yang Bisa Dilakukan
Sosial Masyarakat

Kenali Risiko Kesehatan Mental dan Apa yang Bisa Dilakukan

BEM UNS

Halo UNS dan Indonesia !

Tahu enggak sih kalau gangguan kesehatan mental tanpa penanganan yang tepat punya dampak berbahaya bagi penderitanya? Tak hanya mengganggu secara psikis, gangguan kesehatan mental tanpa bantuan dari ahli, bisa mengganggu fisik, lho. Jika gangguan kesehatan mental diabaikan dan tidak ditangani dengan serius, akan mengganggu produktivitas serta aktivitas sehari-hari. Seperti emosi yang tidak stabil, mengganggu cara berpikir bahkan muncul keinginan untuk menyiksa diri sendiri.

Sayangnya, masih ada kendala terhadap penanganan kesehatan mental di Indonesia nih. Misalnya, penderita gangguan kesehatan mental dianggap aib bagi keluarga ataupun lingkungan sekitar. Mereka yang mengalami stres, depresi, atau kecemasan berlebih dihubungkan dengan hal-hal mistis atau tradisi di suatu daerah. Akibatnya, penderita gangguan kesehatan mental lebih memilih untuk mengisolasi diri tanpa memiliki tempat bernaung dan solusi yang tepat.

Penghakiman yang salah bisa merugikan penderita gangguan kesehatan mental. Contohnya, mereka yang menderita skizofenia (gangguan mental jangka panjang yang membuat penderitanya mengalami delusi, halusinasi, atau gangguan berpikir) jika dibiarkan berlarut-larut akan menyebabkan perilaku agresif, kecanduan alkohol, menjauh dari lingkungan bahkan percobaan bunuh diri. Begitu pun mereka yang menderita depresi dan stres, bisa menyebabkan masalah emosi, perilaku, dan pikiran yang mengakibatkan kematian karena kesehatan fisik yang menurun.

Contoh-contoh tersebut membuktikan bahwa penderita gangguan kesehatan mental membutuhkan penanganan yang tepat oleh tim medis maupun orang-orang di sekitarnya. Penghakiman terhadap penderita gangguan kesehatan mental justru membuat penderita merasa terasingkan dan tidak punya teman. Akibatnya, gangguan tersebut tidak tertangani dengan baik.

Tidak hanya stigma di masyarakat, kendala kesehatan mental juga disebabkan oleh akses kesehatan yang minim di Indonesia. Berdasarkan data Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Indonesia tahun 2019, hanya terdapat 1.143 psikolog klinis yang tersebar di seluruh Indonesia, sementara hanya ada 600-800 psikiater. Data tersebut menunjukkan kurangnya fasilitas pelayanan kesehatan mental di Indonesia sebab data tersebut juga menunjukkan bahwa 1 psikiater melayani 300.000 jiwa.

Oleh karena itu, penting bagi setiap individu, organisasi, dan masyarakat memiliki kepedulian terhadap isu kesehatan mental. Sebagai individu, kita juga memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka yang menderita gangguan kesehatan mental. Kamu bisa memulai dengan menjadi pendengar yang tulus dan tidak memberikan penilaian negatif terhadap teman atau keluargamu yang menderita gangguan kesehatan mental. Selain itu, kamu juga perlu mengedukasi diri sendiri terhadap isu-isu kesehatan mental, misalnya dengan mengikuti seminar kesehatan mental atau bergabung dengan komunitas.

Nah untuk mengetahui lebih banyak mengenai isu kesehatan mental, kamu bisa mengikuti Instagram Social Connect. Di sana, kamu akan belajar lebih banyak mengenai isu kesehatan mental yang informatif dengan visual yang menarik. Selain itu, kamu bisa bergabung dengan komunitas kesehatan mental di Telegram Social Connect agar kamu tidak merasa sendiri lagi, ya!

Tentang Social Connect

Social Connect adalah salah satu komunitas kesehatan mental terbesar di Indonesia yang hadir untuk membangun akses terhadap informasi dan pengetahuan kesehatan mental kepada siapa pun. Mimpi kami sangat sederhana, yakni menciptakan Indonesia yang inklusif, di mana orang-orang bisa bercerita dan berdiskusi tentang kesehatan mental tanpa takut akan stigma dan diskriminasi.

Tentang Djiwa

Social Connect meluncurkan Djiwa sebagai salah satu alternatif untuk mengoptimalkan tidur dan mencapai kebahagiaan dalam hidup. Aplikasi berbasis website ini diluncurkan pada 17 April 2021 dan dibuka untuk umum sejak 20 April 2021 secara gratis. Akses Djiwa sekarang di sini.

Tim Penulis dan Penyusun

Ditulis oleh Dina Fadillah Salma sebagai Media Relations Analyst di Social Connect. Penulis berada di bawah supervisi tim Media & PR Special Project dan tulisan ini sudah di-review secara bahasa dan kesesuaian dengan konteks informasi oleh Rani Fatmawati sebagai Editor Tata Bahasa di Social Connect. Apabila terdapat kesalahan pengejaan nama, tempat, dan lainnya silakan hubungi kami untuk direvisi.

Kontak

Admin Social Connect | Senin—Jumat 09.00—17.00 WIB halo@socialconnect.id | 0812 8467 3071

Kencana Tower, Mezzanine Floor Jl. Raya Meruya Ilir No.88 Business Park Kebon Jeruk, RT. 001 RW. 005 Kel. Meruya Utara Kec. Kembangan, Jakarta Barat 11620

Sumber:

  1. Halodoc. (2020). “Kesehatan mental”. Diakses pada tanggal 14 Mei 2021 dari situs web https://www.halodoc.com/kesehatan/kesehatan-mental
  2. MM Ridho. (2020). “Kalau Jumlah Masalah Kesehatan mental Melonjak, Indonesia Harus APA?”. Diakses pada tanggal 14 Mei 2021 dari situs web https://asumsi.co/post/kalau- jumlah-masalah-kesehatan-mental-melonjak-indonesia-harus-apa
  3. Septiani Dyta Utari. (2019) “Butuh Perhatian, Ini Kendala Penanganan Kesehatan mental Di         Indonesia”.     Diakses      pada     tanggal     14     Mei      2021     dari     situs     webhttps://yoursay.suara.com/news/2019/12/23/121930/butuh-perhatian-ini-kendala- penanganan-kesehatan-mental-di-indonesia?page=all

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments